“Nanti pulang sekolah kita lewat sawah, aku punya tempat baru yang mengasyikkan“.
Mataku berbinar memandang gadis bermata bulat dengan senyum khasnya yang terkesan dipaksakan "Rina" teman dan sahabat masa kecilku di Padang Panjang Timur Sumatra Barat.
Mataku berbinar memandang gadis bermata bulat dengan senyum khasnya yang terkesan dipaksakan "Rina" teman dan sahabat masa kecilku di Padang Panjang Timur Sumatra Barat.
Sebenarnya anak itu manis tapi ia jarang sekali tersenyum, badannya lumayan tinggi untuk anak-anak seusiaku, tubuhnya padat dan bulat seperti matanya. Saking bulatnya mata itu, aku dan teman-teman memanggilnya dengan sebutan Rina jengkol .
Panggilan yang sangat imajinatif dan berbau ledekan. Bukanya tanpa sebab kami memanggilnya dengan sebutan itu. Kebetulan di kelas kami, ada dua murid kelas dua SD yang bernama depan sama. Teman kami Rina yang satu lagi kami memanggilnya dengan sebutan Rina katupek (teman kami ini sudah almarhum), Rina satu ini suka sekali makan “Katupek” sebutan ketupat sayur dengan kuah gulai nangka muda yang sangat kuning warnanya karna bumbu kunyit khas maskan Minang.
Sedang Rina yang bermata bulat suka sekali dengan masakan jengkol , makanan beraroma sangat fantastis seperti buah petai tapi ukurannya jauh lebih besar dan tentu aromanya pun jauh lebih membongkar hidung. Dan kalau diperhatikan secara seksama mata Rina memang tampak bulat dan besar seperti buah jengkol .
Jadi Klop lah ledekan itu ( ketika dewasa aku tak membayangka mata jengkol itu menjadi sangat indah menyatu dengan bulat wajahnya). Dalam hati aku kurang senang dengan sapaan itu, karna ketika teman-teman memanggil nama Rina sudah mengarah pada mengejek kerap kali ku lihat mata bulat itu akan merah menahan air mata.
Panggilan yang sangat imajinatif dan berbau ledekan. Bukanya tanpa sebab kami memanggilnya dengan sebutan itu. Kebetulan di kelas kami, ada dua murid kelas dua SD yang bernama depan sama. Teman kami Rina yang satu lagi kami memanggilnya dengan sebutan Rina katupek (teman kami ini sudah almarhum), Rina satu ini suka sekali makan “Katupek” sebutan ketupat sayur dengan kuah gulai nangka muda yang sangat kuning warnanya karna bumbu kunyit khas maskan Minang.
Sedang Rina yang bermata bulat suka sekali dengan masakan jengkol , makanan beraroma sangat fantastis seperti buah petai tapi ukurannya jauh lebih besar dan tentu aromanya pun jauh lebih membongkar hidung. Dan kalau diperhatikan secara seksama mata Rina memang tampak bulat dan besar seperti buah jengkol .
Jadi Klop lah ledekan itu ( ketika dewasa aku tak membayangka mata jengkol itu menjadi sangat indah menyatu dengan bulat wajahnya). Dalam hati aku kurang senang dengan sapaan itu, karna ketika teman-teman memanggil nama Rina sudah mengarah pada mengejek kerap kali ku lihat mata bulat itu akan merah menahan air mata.
Setelah dewasa tahun 2001 untuk pertama kalinya aku pulang lagi ke kampung halaman ibuku, saat itu aku tengah menyelesaikan kuliah S1 di kampus ungu STads ASMI Jakarta. Menginjak kembali tempat masa kecilku yang penuh petualangan besar bersama Rina.
Hei dimana teman kecilku itu sekarang ? Terakhir kami bertemu setamat sekolah dasar, dia hanya memandangku dari kejauhan, ketika itu aku, kakakku darsi dan ibuku tengah menanti mobil Trans Sumatra yang akan membawaku kembali ke Makassar kota kelahiranku.
Rina, teman yang mengajariku memanjat pohon, berlari di pematang sawah, menangkap ikan kepala timah di bandar, mecari buah murbey di parak (kebun) si Sindai, menjujung kayu bakar di kepala, menanam benih padi di sawah, menyusuri anak sungai, berenang di tabe’ ( kolam ikan yang berfungsi ganda sebagai tempat buang air besar maupun kecil di Surau / Mesjid).
Hei dimana teman kecilku itu sekarang ? Terakhir kami bertemu setamat sekolah dasar, dia hanya memandangku dari kejauhan, ketika itu aku, kakakku darsi dan ibuku tengah menanti mobil Trans Sumatra yang akan membawaku kembali ke Makassar kota kelahiranku.
Rina, teman yang mengajariku memanjat pohon, berlari di pematang sawah, menangkap ikan kepala timah di bandar, mecari buah murbey di parak (kebun) si Sindai, menjujung kayu bakar di kepala, menanam benih padi di sawah, menyusuri anak sungai, berenang di tabe’ ( kolam ikan yang berfungsi ganda sebagai tempat buang air besar maupun kecil di Surau / Mesjid).
Namanya memang hanya “ Rina " tak ada embel-embel dibelakangnya. Tapi teman kecilku itu mengajariku bagaimana “ Mencari Hidup” . (BERSAMBUNG)

No comments:
Post a Comment
Mohon saran atau apresiasinya :)